Bedah Jepara: Sentra Kerajinan Ukiran Kayu
Kabupaten Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat
beberapa sentra kerajinan ukiran kayu yang tenar hingga ke luar negeri.
Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan
dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya terlekat di
wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Pemuda. Kali ini
kami berkesempatan untuk mengunjungi salah satu sentra kerajinan ukiran
kayu dan mebel yang ada di Desa Mulyoharjo, Kabupaten Jepara, Jawa
Tengah, Indonesia.
Setelah mengunjungi Air Terjun Songgolangit, kami melanjutkan perjalanan menuju Benteng VOC, namun sebelumnya kami akan melewati salah satu sentra kerajinan ukiran kayu yang terletak tidak jauh dari Benteng VOC tersebut. Sekitar pukul 12.10 WIB, kami melewati sentra kerajinan ukiran kayu Jepara ini. Meskipun hanya melihat-lihat dari atas mobil, tidak turun, kami cukup dapat melihat berbagai bentuk ukiran kayu yang ada disini. Mulai dari bentuk binatang, meja, kursi, sampai dengan ornamen-ornamen yang biasa digunakan untuk menghias rumah.
Ukiran asli Jepara juga terlihat dari
motif Jumbai atau ujung relung dimana daunnya seperti kipas yang sedang
terbuka yang pada ujung daun tersebut meruncing.Dan juga ada buah tiga
atau empat biji keluar dari pangkal daun.Selain itu,tangkai relungnya
memutar dengan gaya memenjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil
yang mengisi ruang atau memperindah.
Ciri-ciri Khas diatas sudah cukup mewakili sebagai identitas ukiran Jepara.Bentuk motif ukiran tersebut ada juga yang oleh para ahli pahat disisipkan di berbagai alat rumah tangga seperti contoh di kursi atau meja yang diberikan ukiran khas Jepara,juga yang lain misal figura foto yang diberi khas Jepara dengan ukiran.
Setelah mengunjungi Air Terjun Songgolangit, kami melanjutkan perjalanan menuju Benteng VOC, namun sebelumnya kami akan melewati salah satu sentra kerajinan ukiran kayu yang terletak tidak jauh dari Benteng VOC tersebut. Sekitar pukul 12.10 WIB, kami melewati sentra kerajinan ukiran kayu Jepara ini. Meskipun hanya melihat-lihat dari atas mobil, tidak turun, kami cukup dapat melihat berbagai bentuk ukiran kayu yang ada disini. Mulai dari bentuk binatang, meja, kursi, sampai dengan ornamen-ornamen yang biasa digunakan untuk menghias rumah.
Kabupaten Jepara terkenal dengan ukiran kayu para pengrajinnya. Ukiran ini mereka namakan dengan istilah ukiran Jeporonan,
yang bermakna ukiran dan meubel dari Jepara. Namun tahukah Anda
kemahiran pengrajin Jepara ini konon berhubungan dengan sebuah cerita
legenda yang menyertainya.
Alkisah, hiduplah seorang seniman
bernama Ki Sungging Adi Luwih yang cukup terkenal. Suatu hari, keahliaan
sang seniman akhirnya terdengar oleh seorang Raja. Sang seniman
diundang oleh raja untuk menggambar sang permaisuri, hingga akhirnya Ki
Sungging Adi Luwih menyanggupinya.
Dengan cekatan dan keahlian lukisannya
Ki Sunggih berhasil menyelesaikan lukisannya sehingga gambar permaisuri
sangat mirip dengan yang asli. Hanya saja ada kekeliruan yang berujung
pada keputusan Raja untuk menghukum Sungging dengan hukuman yang lebih
berat lagi. Pada saat melukis sang permasiusri, ternyata Ki Sungging
tidak menyadari saat sedang asyik menggambar rambut, ada satu tetes cat
hitamnya yang terjatuh. Yang membuat heboh, jatuhnya tetesan cat itu
memercik tepat di pangkal paha gambar permaisuri yang tampak seperti
tahi lalat.
Mengetahui lukisan tersebut, sang Raja
murka karena mengira Ki Sungging telah melihat permaisuri telanjang.
Sang raja akhirnya menghukum Ki Sungging untuk membuat patung permaisuri
di atas langit atau di udara. Kalau sebelumnya dia hanya melukis,
sekarang dihukum dengan yang lebih berat, yakni membuat patung dengan
gambar sang permaisuri lagi.
Ki Sungging pun akhirnya menyanggupi
permintaan Raja dan dengan dibantu kesaktian Ki Sungging, ia bisa
terbang dengan dibantu layang-layang dan membuat patung di udara. Namun,
malang tak dapat dihindari, ketika patung masih setengah jadi,
tiba-tiba angin bertiup kencang. Ki Sungging yang terus berkonsentrasi
tidak mampu mengendalikan layang-layang yang dikendarai hingga akhirya
terlempar bersama patung dan alat pahatnya.
Konon, dari sini patung setengah jadi
tersebut terlempar hingga pulau Bali, dan selanjutnya patung tersebut
ditemukan masyarakat Bali. Hingga sekarang, masyarakat Bali tersebut
dikenal juga sebagai ahli membuat patung. Sementara alat pahat yang
digunakan Ki Sungging terlempar hingga jatuh di belakang gunung di
kawasan Jepara. Dari balik kawasan gunung inilah, menurut cerita
legenda, seni ukir Jepara mulai berkembang dan terus maju hingga populer
seperti sekarang ini.
Ukiran Jepara mempunyai ciri khas yang
menunjukkan bahwa ukiran itu asli dari Jepara atau tidak.Salah satu ciri
khas yang terkandung didalamnya adalah bentuk corak dan motif.Untuk
motif sendiri bisa kita lihat dari: Daun Trubusan yang terdiri dari dua
macam yaitu dilihat dari yang keluar daritangkai relung dan yang keluar
dari cabang atau ruasnya.
Ciri-ciri Khas diatas sudah cukup mewakili sebagai identitas ukiran Jepara.Bentuk motif ukiran tersebut ada juga yang oleh para ahli pahat disisipkan di berbagai alat rumah tangga seperti contoh di kursi atau meja yang diberikan ukiran khas Jepara,juga yang lain misal figura foto yang diberi khas Jepara dengan ukiran.

Komentar
Posting Komentar